Assalamualaikum
Wr.Wb.
Rasanya aneh juga menceritakan
tentang ini ke khalayak publik, tapi niatku berbagi cerita bukan maksud untuk
pamer, minta dikasihani, ataupun perhatian lebih dari khalayak teman-temanku.
Tapi
tolong kalian ambil positif dari cerita ini.
Kali
ini aku akan berbagi cerita tentang kenyataan, yang aku alami dan bukan sebuah
bualan imajinasi tapi ini dari pengalamanku sendiri. Let’s Enjoy
Berawal dari marahnya aku sama
orang tuaku, waktu itu tepatnya Januari aku marah sama bapak dan ibuku. Kukira
marahnya aku hanya bertahan 1-2 hari, ternyata itu salah. Aku marah dengan
mereka hingga hitungan mingguan. Mungkin tipe aku yang terlalu peka sama sifat
egoisku dan akupun juga anak bungsu yang mungkin sebagian orang menilai anak
bungsu itu manja, susah untuk mengerti dan tingkat kekanak-kanakannya lebih
tinggi. Valid sih, aku gak menilai itu Kontra memang ada benernya juga aku gak
pungkuri sama yang namanya penilaian. Next, dari sifat aku yang begitu,
ternyata aku termasuk anak yang batu juga dirumah hubunganku sama kakakku
(laki-laki nomer 3 dan aku punya 3 saudara) jadi kurang baik karena sifatku
yang seperti itu. Padahal, jika kalian tahu kita itu deket banget dan melebihi
kelakuan anak usia 5 tahun yang kalau sudah main pakai ajang teriak sana teriak
sini (sekedar hiburan). Tapi itu DULU. Kini aku dan kakakku jadi baku banget,
ngomong saja seperlunya, itupun kaya bukan cara bincang seorang adik ke
kakaknya. Yaa, beginilah nasib jadi anak yang punya sifat ego tinggi keluargaku
menilai aku anak yang susah diatur, pemalas, entahlah lontaran sifat jelek
selalu tercurahkan untukku dari mulut-mulut keluargaku.
Sebelum-sebelumnya aku sih
menerima kata-kata itu, tapi lama-kelamaan semua itu berubah. Semenjak itu, aku
berubah menjadi anak yang kurang komunikasi dengan keluarga, cepat bosen kalau
judul dirumah, dan aku bukan kaya aku yang aku kenal dulu. Aku lebih banyak
menghabiskan waktuku diluar entah dengan teman-teman pokoknya judulnya No Family. Rasa awal biasa aja, ketemu
temen-temen have fun kaya gak ada beban kalau aku lagi kaya dalam fase perbedaan.
Semua berjalan sesuai alur, kujalani terus ada saat dimana aku menangis dengan
Allah tanpa mereka tahu dan aku tertawa dengan sesuatu terpaksa. Kuanggap itu
biasa. Hehe :”)
Tapi, berjalan waktu-kewaktu aku
merasakan sesuatu yang amat berbeda. Kukira dengan memendam dan bercerita
dengan Allah cukup bagiku, tapi ternyata TIDAK!!!
Waktu
itu tepatnya menjelang saat aku tidur malam hari sekitar pukul setengah 12-an
malam, aku berdoa dan aku tidur. Saat kutidur, entahlah itu halusinasi atau
mimpi tapi aku merasakan bertemu sosok putih tinggi yang seperti memberikan
isyarat khusus buatku. Aku terhentak, dan bangun dari jam tidurku. Tapi bangun
kali ini lebih berbeda, aku merasa badanku mulai dingin dan entah kenapa aku
ingin sekali menggenggam tangan ibuku dan kuusap telapak kaki ibu agar aku
lebih hangat. Saat itu pula, keadaan
badanku semakin dingin dan aku baru ingat saat itu aku belum menunaikan ibadah
solat isya. Aku lari dengan khusyuknya aku berwudhu. Air wudhu yang membasahiku
sedikit membuatku nyaman dan kumulai solatku dengan Takbir, tapi apa daya
badanku lemah tak berdaya bak sekaratulmaut. Jantungku berdentak kencang,
badanku makin dingin, pikiranku mulai ngelantur. Saat itu seperti aku akan
dipanggil oleh Allah swt, bergegas aku cepat-cepat pergi ke kamar menghampiri
orangtuaku tanpa melepas mukenaku dan aku langsung meminta maaf dan memeluk
mereka sambilku menangis dengan keadaan lemah serta minta ampun pada mereka.
Sungguh malam itu, aku benar-benar menangis terdalam hingga kuucap pada mereka “Ibu bapak gatry gak kuat ini kayanya gatry
bakal mati deh, demi badan gatry gakuat. Tolong maafin gatry yaa kalau gatry
banyak salah. Gatry bakal masuk surga atau neraka?” (menangisku hingga
terisak-isak).
Dan
orang tuaku memelukku erat dan menciumku untuk menenangkan keadaanku yang mulai
kacau. Kekacauan malam itu membuat keluargaku khawatir dengan keadaanku.
Beberapa jam aku tak berdaya dan Alhamdulillah Allah masih memberikanku hidup.
Tapi, kusangka kejadian malam it’s over but NO!! Itu kaya awal banget aku
ngerasain jadi orang yang melancolist. Darisitu, aku mulai tak bisa mengontrol
eRasa terpuruk Atau Berdosamosi. Kaya ada sesuatu yang mengganjal sehingga untuk meluapkannya aku selalu
menangis. Berusaha aku menahan tapi rasa sakit dijiwa, batin dan hati itu
terasa banget. Aku gak kuat, nangis buatku gak cukup. Sampai berfikir aku ingin
mati, ini terasa sakit banget. Sebelumnya aku gak pernah ngerasain yang sesakit
ini, tapi kali ini luar biasa sakitnya. Aku seperti takut dalam hal apapun, aku
takut pada diriku, orang lain dan itu yang membuatku menangis. Phobia yang
berlebih membuatku tersiksa. Hinggaku solat nangisku berlanjut dan meminta sama
Allah agar aku disembuhkan dari sakit ini. Jujur gak kuat rasanya apalagi aku
termasuk mental rendah.
Well, aku sekarang lagi belajar
proses kontrol emosi. Berusaha banget buat tahan semua biar aku gak menangis.
Lebih perbanyak istighfar, baca surat An-Nass, Al-Falaq, solat ( saran
orangtua). Belajar melawan Phobia berlebihku dengan belajar ikhlas. Kalau aku
mulai kambuh sakit, aku berusaha melakukan hal yang membuatku senang terpaksa
yang penting terlupakan.
Buat kalian khususnya anak-anak
muda, ini cerita nyata yang aku alami. Belajar untuk jadi orang yang pemendam
itu ternyata gak enak. Mungkin awal kalian akan ngerasain “baik-baik aja” tapi
nanti kalian akan ngerasain keadaan “gak baik”. Bisa-bisa kalian ngerasain yang
lebih dari aku, begini aja rasanya sakit banget apalagi yang lebih dari ini.
Jangan juga ya kalian hilang komunikasi sama keluarga, karena buatku keluarga
pilar utama kita didunia. Mereka yang mengerti kita sesudah Tuhan.
Semoga apa yang aku alami bisa
menjadi renungan buat kalian dan tolong ambil yang positifnya aja. Aku mau
ingetin sekali lagi, sampai sekarang aku masih ngerasain sakit itu. Dan aku
bertahan untuk Tabah sama Allah swt.
Wassalamualaikum
Salam
Pemimpi
No comments:
Post a Comment